Skip to main content

Posts

Terhangat

Sensasi Wisata Pulau Madura

Sejak jembatan Suramadu selesai dibangun, potensi Madura sebenarnya tidak kalah sebagai jujugan wisata sebagaimana Jogja, atau bali. Madura juga memiliki sensasi-sensasi wisata yang setara dengan keduanya.

Tentu saja, daya tarik yang disuguhkan tidak sama dengan keduanya. Karenanya, bertamasya ke pulau Madura akan menambahkan kaya pengalaman, dan petualangan.
Bali terkenal dengan kota budaya dan ritual keagamaan hindu atau budha, Jogja terkenal dengan budaya dan keberagamaan ritual keagamaanya. Sedang di pulau Madura, sensasi kebudayaan juga sama memukaunya dengan Jogja atau Bali. Misalnya
Recent posts

Mati (tidak) dalam Kebenaran

Refleksi Kematian Murid Ajisaka

Demi menjaga dan melaksanakan amanah guru,  dua murid Aji Saka  terpaksa harus bertarung satu sama lain.  Babak finalnya, keduanya sama-sama tewas.  Mati dalam (membela) kebenaran.

Legenda Aji Saka cukup populer di tanah Jawa. Bukan hanya di tanah Jawa, juga termasuk di Madura. Kisahnya masih punya kelindan dengan kisah lain di Madura yang berkenaan dengan orang pertama yang menghuni pulau garam, yaitu Pangeran Segoro.

Aji Saka sebagaima diketahui, dikenang sebagai pencipta aksara Jawa hanacaraka.  Dalam hal ini, dia memiliki  dua murid kepercayaan, yaitu Dura dan Sembadra. Suatu waktu, saat akan pergi berperang melawan Dewata Cengkar, Aji Saka menugaskan Dura untuk menjaga kitab Sarutama. "Siapa pun tidak boleh mengambil pusaka ini, kecuali aku sendiri," demikian pesan Aji Saka sebelum pergi ke medan perang bersama Sembadra.

Singkat cerita, di medan perang, Aji Saka mendapat kesulitan. Karena itu, ia membutuhkan kitab Sarutama. Ia memerintahkan Se…

Mengenang KH. Aziz Masyhuri

Inspirasi dan Keteladanan sang Guru


"Belakangan ini, waktu-waktunya beliau lebih banyak dihabiskan untuk membaca dan terus menulis. Saya cukup senang beliau bisa lebih banyak istrahat di rumah..." Nyai Hj. Azizah Aziz Bisri


Sore belum benar-benar mereda, saat tiba di Pondok Pesantren Al-Aziziyah. Sejumlah alumni juga sudah berkumpul di masjid. Ini adalah kali kedua saya sowan ke Yai Aziz Masyhuri di bangunan pesantrennya yang baru. Sowan yang pertama kali adalah di saat ada gelar muktamar NU tahun sebelumnya. Berhubung beliau masih istirahat, kami ditemui oleh bu Nyai Aziz. Kami pun terlibat obrolan lepas sampai lebih dua jam lamanya.

Sebanyak apapun obrolan yang beliau bincangkan, hanya satu ucapan beliau yang betul-betul paling saya rindukan sejak masih  di Madura dan belum menyentuh tanah Jawa, yaitu soal kecintaan beliau dalam soal menulis dan berkarya. "Belakangan ini, waktu-waktunya beliau lebih banyak dihabiskan untuk membaca dan terus menulis. Saya cukup senang …

Ziarah ‘Rasa Makam Sunan Ampel’ di Negeri Tiongkok

Negeri China, atau yang sekarang disebut Negeri Tiongkok, memang dikenal sebagai negeri Komunis. Namun siapa sangka, situs-situs sejarah kuno peradaban Islam tetap kokoh nan lestari terawat di sana. Tak kurang di antaranya makam salah seorang sahabat Nabi, yaitu Saad Abi Waqas. Masih utuh dan terawat. Menariknya, tradisi keagamaannya mirip di tanah air.
Keunikan tersebut terekam dalam catatan kunjungan 20 ulama Jawa Timur selama delapan hari di negeri Panda. Para ulama tersebut merupakan gabungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Jatim, Nahdhatul Ulama (PWNU) dan Muhammadiyah. Selama di negeri tirai bambu, mereka bertandang ke-empat tempat paling bersejarah dan memiliki penduduk muslim, yaitu Quanzhu, Yinchuan, Xian, dan Shenzhen. Mereka diberangkatkan oleh pengusaha Tionghoa, Alim Markus.
Sepanjang perjalanan mencicipi negeri yang pernah disabda Nabi Muhammad Saw tersebut, banyak pengalaman menakjubkan mereka alami. Di antaranya

Ngabuburit Menunggu Magrib; Sensasi Plus di Bulan Ramadhan

Apa yang seru di bulan puasa, selain melimpah berkah? Tentu itu adalah Ngabuburit menunggu magrib. Untuk mencari menu berbuka, banyak pihak yang menyediakan gratis demi meraih keberkahan. Mulai dari kalangan individu, perusahaan, pengusaha hingga pejabat. Mereka mengumpulkan dana kemudian berbagi bahagia dengan sesama.
Bulan Ramadhan memang penuh berkah dan memberikan kesan keistimewaan yang khusus. bagi banyak orang, terutama menjadi berkah bagi kalangan ke bawah, seperti anak-anak yatim-dhuafa sampai tukang becak dan sebagainya. Apa pasal? Tak lain karena mereka kerap jadi pihak utama berbagi.
Senin (13/6/2016), misalnya. Saya mencicipi nikmat ngabuburit di Graha XL yang berlokasi di Jl. Pemuda, Surabaya. Sejumlah awak media juga hadir di sini. Yang tidak terduga, ternyata ada sosok berpakaian lengkap. Baju koko, bersarung, dan tentu saja berkopiah. Saya kira siapa. Terasa tidak asing. Nyatanya beliau adalah Kiai Suudi Sulaiman.
Tepat juga pihak XL mendatangkannya. Materi ceramah ya…

Keajaiban Alam di Pulau Merah

Alam rupanya juga makhluk. Mereka seakan memiliki keajaiban logika kejiwaannya sendiri. Di Indonesia yang dikelilingi gunung merapi, mengharuskan yang menempatinya wajib mengenal karakter alam. Di antara keajaiban alam tersebut bisa dilihat di salah satu pulau di daerah Banyuwangi, yaitu Pulau Merah. Di pulau ini, tragedi tsunami telah menghilangkan satu keajaiban dan memunculkan keajaiban yang lain. Saya berkesempatan menikmati sensasi pulau ini pekan lalu.

Gerimis hujan mewarnai pantai Pulau Merah di senja hari. Dari sela-sela gerimis, sejumlah gulungan ombak tampak berputar, meliuk kemudian bergiliran menuju landai pantai. Suasananya semakin menakjubkan oleh pemandangan sejumlah bukit berselimut kabut yang berbaris menjadi garis batas laut di kejauhan. Barisan bukit tersebut terasa janggal, begitu mata menoleh ke sisi lain. Tampaklah sebuah bukit yang lebih menyerupai bongkahan batu besar, menjulang ke angkasa seakan mengambang di permukaan laut..
Keanehan berikutnya

‘Dear Mantan’

Menyerupai gelap yang menyelimuti malam, dan penggalan bulan yang meruncing di atas langit. Menimbulkan bias-bias cahaya di beberapa ruang. Inspirasi yang sempurna. Kurasa seperti itu. Rasaku padamu. Saat melihatmu kembali. Telingaku bisa sekali lagi mencecap rindu, di sela-sela suaramu. Tubuhmu. Juga bau parfum yang semerbak dari busanamu. Tetap sebagaimana yang dahulu itu. Membuat gerbang silam lebar terbuka. Haruskah kubilang, pertemuan kita ini membuat cinta ini lebih mekar ketimbang yang dulu?
“Kau tahu? Sebuah pelukan darimu akan sangat berarti bagiku malam ini,” katamu. Batinku serasa beraduk. Adakah kau merasakan perasaan yang sama denganku? Kau menatapku. Napasku tersendat di dada. Tatapan mata itu. Membuat diriku seakan tenggelam di dasar kedalaman laut. Perlahan aku menata keluarnya napas yang tertunda.
“Aku tahu. Ya, aku tahu. Kau tidak mungkin memelukku malam ini...” ucapmu lagi. Mukamu tertunduk. Mengitari tebaran pasir. Tanganmu lantas mengaduk-aduk pasir, dan menghempas-…

Gus Nizam, si Kembar Gus Dur

Namanya jadi bisik-bisik seantero negeri terkait syiiran tanpo waton, yang kadung melekat dengan sosok Gus Dur sebagai vokalnya. Publik pun dibikin tanda tanya, karena muncul isu bukanlah Gus Dur yang melantunkan. Dalam acara di Surabaya, Inayah menegaskan bahwa pihak keluarga Gus Dur sendiri memilih hati-hati untuk menyikapi benar-tidaknya suara di balik vokal syiitan tersebut adalah Gus Dur. Sosok yang dikaitkan dengan pemilik suara asli adalah Gus Nizam. Beberapa kali bertemu Gus Nizam dan mendengar suaranya melantunkan syiiran, memang setara dengan yang diperdengarkan di corong-corong masjid.

Tidak ada sesuatu yang istimewa dari seorang Gus Nizam. Tampilannya juga biasa-biasa saja. Demikian juga dengan caranya berbincang. Sama halnya dengan kebanyakan orang. Demikianlah kesan pribadi saya. Saya sempat terpikir, apa sebetulnya yang menjadi daya tarik seorang Gus Nizam bagi jamaahnya yang ribuan orang. Yang mana mereka bisa berdatangan dari berbagai daerah, Surabaya, Madura, Probolin…